Penonton Yang Patah Hati

Mungkin memang diriku tidak layak untuk bermimpi.
Mungkin memang diriku tidak layak untuk dicintai, tidak seperti mereka yang ada disekelilingku.
Ya aku iri, iri dengan mereka semua. Setiap saat mendapatkan undangan, tapi bukan undanganku sendiri.
Setelah sebulanan si mas menyambung silaturahmi lagi, aku merasa lengkap tanpa mikir bahwa dia mungkin akan menemukan calon, dan itu bukan aku.
Miris amat yak diriku, selalu dan selalu mengemis harapan dan cinta.
Hidup cuman sekali aja miskin mulu. Cuman menjadi penonton dan pemimpi.

Sejak tabletku rusak mati total alias rusak, aku menjadi aktif facebookan, dan wira wiri di kompi.
Minggu pagi, di homeku muncullah kalau si mas ganti profil, aku lihat dengan santai dan mesem2 liat dirinya.
Giliran sampai di koment, hati rontok menjadi bubur sumsum...
"Wis dadi po undangan nikahmu..." (Undangan nikahmu sudah jadi?)



Kalau aku bilang Allah kejam, mereka semua akan menghujatku.
Ya ya ya... bukan cuma aku kaliiii yang ngalamin patah hati kayak gini... tapi nyaaaaaaahhhh seandainya aku bukan aku yg seperti ini, mungkin umur 19 tahun sudah ada yang melamarku, seperti halnya adikku yang jelita rupawan itu.

Cemburu mulu han... han...

Tidak menyenangkan menjadi itik di sangkar angsa. Karena setiap mata memandang, kamu hanyalah musibah. Karena setiap kebahagiaan selalu menjadi milik mereka, bukan aku.

Karena setiap detik, menjadi dosa dalam yang terus mengakar semakin kuat.
Aku lelah menjadi pendengki, aku lelah menjadi penonton.


#LovelyHani

#Lovely Honey

Di setting oleh Hanifah Sya'roni dengan segala kegalauan hati hihihi. Diberdayakan oleh Blogger.