Orang-orang terkadang kaget ketika bertemu denganku… melihat bekas-bekas luka bakar di wajah juga lengan. Sebelah kanan yang parah banget… ada yang berani bertanya langsung kepadaku, dan ada yang hanya mencuri-curi pandang, penasaran… “Ini mbaknya kenapa ya…” (mungkin begitu isi hati mereka :D )
Aku terbakar 19 tahun yang lalu (baru kemarin bagi ibundaku). Bukan ketelodaran ibuku, abahku, saudaraku ataupun karena kompor meledak. Tapi, bener-bener karena kesalahanku sendiri (aku masih ingat semuanya)
Pagi itu, kamis 4 juni 1992 Aku dibangunkan abah jam 4 pagi. Abah membawakanku oleh-oleh malam sebelumnya. Abah yang mau berangkat siaran pagi berpesan kepadaku bahwa beliau tidak bisa menemani ke TK, jadi siang itu aku harus mengambil rapor dan ijazah TK dengan ibu. Abah juga berpesan supaya aku tidak nakal dan membantu ibu serta tidak mengusili adik-adikku. Abah berangkat jam 4 pagi. Kurang dari 30menit aku sudah mandi dan memakai seragam TK ( kaos olahraga ) dandanan lengkap dengan pita rambut juga. Ibuku kemudian membawaku ke kamar tidur untuk menjaga fahmi adik laki-lakiku yang masih berumur 1 tahun. (Super sibuk, dengan sulung berumur 6tahun dan 2 balita benar-benar menguras waktu ibundaku…)
Waktu itu Isti dan Fahmi masih tidur. Tiba-tiba fahmi menangis minta minum, aku panggil ibu ke dapur… Ibu pun ke kamar untuk menyusui fahmi. Aku yang memang ‘ngglithis’ sudah diperingatkan untuk tidak main di dapur, tapi…kapanlagi aku bisa main kompor.. Temen-temen juga biasa bantu mbatik orang tuanya tidak apa-apa (ada setan yang mengajakku :D *kasian setannya…jadi tertuduh mulu*) Dengan kayu kecil (utek-utek) di tangan kanan aku pun bermain, kayu aku masukkan ke minyak di dalam kompor, kemudian aku bawa ke api, dan masih dengan api menyala aku masukkan lagi ke dalam minyak(nggak meledak ya..catet deh), berkali-kali. Sampai yang terakhir, minyak dari kayu netes ke kaos olahragaku…api langsung ngedlop dari kompor ke kaosku mengejar tetesan minyak yang tak seberapa banyak. Apinya bener-bener kecil, aku masih ingat ya…
Bermula dari api yang kecil di ujung pinggangku sebelah kanan, tidak kusangka akan menjadi demikian besar. Dengan tangan kanan dan tangan kiri aku berusaha memadamkan api di badanku….tapi tidak berhasil. Bukannya padam, api semakin besar sampai ke wajahku. Karena panik, aku lari ke dalam rumah sambil memanggil ibu. Begitu melihatku, Ibu yang sedang menggendong fahmi langsung menyeretku ke dapur lagi dan menyiramku dengan 2 ember air. Api yang padam menyisakan aku yang gosong dari ujung kepala hingga perut… Kejadian ini tidak ada 5menit, dan saat kebakar aku tidak merasakan panas…bener-bener adem.
Ibu yang masih shock aku tinggalkan, aku menghampiri kaca besar di ruang tengah untuk melihat apa yang aku alami….namun tidak ku lihat bayanganku yang dulu…hanya ada sosok hitam kemerahan…aku bertanya kepada ibu…”buk, iki aku?” (jaman dulu omonganku udah tuek ix)
Keributan di rumahku pagi buta itu, membuat tetangga berdatangan. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan kami, begitu melihat keadaanku, mereka hanya bisa bilang “kok bisa?” , “ ibunya ngapain ?” .”ditinggal kerja suami aja anaknya kobong” (Sebenernya kalimat2 itu juga diucapkan ibu dan adiknya abah ke ibundaku berulangkali…maapin aku ibuku sayang…aku selalu merepotkan ibu)
Akhirnya salah seorang tetangga memanggilkan becak untuk membawaku ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit, hujan rintik-rintik turun… Badanku mulai terasa panas… Di dalam becak bersama ibu, dan 2 adikku yang masih balita menyusuri 10Km sawah-sawah dan memasuki kota… (bayangkan saja lama perjalanannya naik becak, dari rumah jam 6 pagi sampai rumah sakit sekitar jam 11…perkiraan saja soale sudah siang di RSUD).
Sebelum sampai rumah sakit yang jaraknya 21 KM dari rumahku itu, kami mampir ke dr.Matori untuk periksa. dr.Matori tidak bisa bilang apa-apa, beliau menyuruh kami untuk segera ke RSUD Pekalongan. Beliau menelpon UGD RSUD untuk mengabarkan kedatangan kami, sehingga begitu becak kami sampai di kraton, perawat dan paramedis langsung mengurusku. *dengan kondisiku yang gosong seperti itu wajar banget kalau dokter pun tidak bisa berkata apa-apa*
Abahku di radio walisongo yang dihubungi oleh dr.Matori shock saat melihatku di UGD, Abah yang menangis jatuh terduduk di samping brangkarku. jadi pas dokter matori menelpon abah dan berkata "pak roni, anak anda terbakar", abahku mengira yang terbakar kaki atau tanganku sedikit. Bahkan saat itu, abah sempat tidak sadar kalau yang terbaring menjerit-jerit di brangkar adalah aku (gosong mana kenal) Sementara budheku pingsan dan ibuku duduk termangu di depan UGD. (Sampai saat ini, ibuku terkadang begitu terlihat kesakitan saat menatapku seolah-olah semua itu kesalahan beliau. Kejadian ini telah menyakitinya dengan demikian parah.)
Aku masih ingat, di UGD bajuku yang sudah lekat dengan tubuhku ditarik lepas oleh para perawat. Luka harus terbuka, tidak boleh tertutup kaos yang sudah menjadi plastik. Duh…rasanya sakitttttt banget…rasanya seperti pas kita korengen trus ditutup pakai kasa dan ditarik saat kasanya kering… (yang pastinya berdarah-darah). Aku terus menjerit dan menjerit…suaraku sampai hampir habis. Dan akhirnya telinga kananku yang gosong parah, terpaksa digunting separo (kata dokter sutoko harusnya tidak dipotong juga gpp…tapi namanya aja pencegahan inveksi ya).
Di RSUD Pekalongan, aku diletakkan di ruang isolasi karena luka bakar yang aku alami seluas 45 %. Selama 10 hari pertama 3 dokter spesialis yang menanganiku. Spesialis bedah, spesialis anak dan spesialis mata. Saat itu aku yang tidak sadar kadang meracau menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di TK (membuat keluarga besarku semakin sedih). Jari-jari tangan kananku lengket (seperti mencengkeram) tidak bisa lepas. Tapi Alhamdulillah jari-jari ini bisa terlepas setelah ditelateni ibuku dan perawat dengan dikompres memakai cairan NaCL. Alis dan bulu mataku habis tak bersisa (alhamdulillah sudah tumbuh lagi ^o^ )
Selama proses perawatan hanya kesakitan yang aku rasa apalagi saat pengobatan dilakukan oleh para perawat tiap jam 9 pagi. Hiks… perawatan untuk luka bakar sangatlah menyakitkan. Aku tidak bohong…Standarnya luka bakar harus diguyuri cairan NaCL kemudian digosok dengan kain kasa. Setelah dengan NaCL ganti dibersihkan dengan obat merah (digosok dengan kasa juga). Ini dilakukan diseluruh luka bakar yang ada. Jadi untuk kasusku, dari tangan kanan, tangan kiri, badan, leher digosok seperti itu baru kemudian ditutup dengan sufratule. Ya Allah… jangan ditanya deh sakitnya. Aku menangis, menjerit dan menyumpah-nyumpah (suaraku melebihi bunyi toa nyaringnya). Setiap hari, perawatan tersebut aku jalani. 4 orang laki-laki dewasa yang harus memegangi tangan juga kakiku. Oh ya…aku fasih menyebut kata ‘setan, monyet, juga belis’ selama proses itu.
Bukan aku tidak berusaha kabur, setiap pagi aku selalu merancang rencana kabur dari proses pengobatan itu. Dari yang jongkok di kamar mandi selama berjam-jam, sampai yang memposisikan tubuhku sedemikian rupa malang melintang di pintu agar tidak dibawa ke ruang pengobatan. Tetapi…tidak ada satupun yang berhasil. Mereka lebih kuat dari aku. Abah menggendongku yang berontak, dan para perawat laki-laki juga pak satpam (untuk nangani aku, perlu 2satpam) siap di lorong juga di ruang perawatan. Begitu abah dan aku masuk, huaaaaa tangan mereka sigap memegangku.
Saat itu, jeritan dan tangisanku menjadi momok bagi pasien lain. Semua orang hapal jam perawatanku, Saking rutinnya jerit tangisku (setiap hari), sampai banyak pasien yang mengenal keluargaku. Mereka bertanya ke orang-orang “itu yang njerit2 terus anaknya siapa? Dia kenapa?”
Selama aku di rumah sakit, fahmi belajar jalan di ruanganku, prembetan dari dinding ke tempat tidurku. Ibundaku, yang paling kasihan. Beliau selalu disalah-salahkan orang. Padahal...beliau yang paling merana melihatku. Aku anak sulungnya, dia yang mengandungku selama 10bulan, dia yang melahirkanku, dan dia orang yang melihatku terbakar, dia juga yang menyiramku dengan air. Bisa kan dibayangkan, apabila saat itu ibuku pingsan… bukan hanya aku yang terbakar, tapi seisi rumah juga. Ibulah yang selalu lebih sakit hati ketika ada orang yang menatapku, beliau juga yang selama ini selalu merawatku. Aku tidak menjadi aku yang sekarang tanpa dukungannya.
note:
1.setiap subuh, perawat selalu mendatangiku, memasang kompres di sekujur luka bakarku.
2.setiap kali selesai diobati, aku selalu dibuatkan minuman dan makanan apa pun pilihanku oleh para perawat..
3.saking sakitnya pas diobati, aku sampai ngompol di brangkar tsb -___-' (memalukan)



