Jumat, Februari 24, 2012 - , , , , 0 comments

Luka Bakar Sungguh Menyakitkan

(aku 5 bulan sebelum kebakar)


Orang-orang terkadang kaget ketika bertemu denganku… melihat bekas-bekas luka bakar di wajah juga lengan. Sebelah kanan yang parah banget… ada yang berani bertanya langsung kepadaku, dan ada yang hanya mencuri-curi pandang, penasaran… “Ini mbaknya kenapa ya…” (mungkin begitu isi hati mereka :D )

Aku terbakar 19 tahun yang lalu (baru kemarin bagi ibundaku). Bukan ketelodaran ibuku, abahku, saudaraku ataupun karena kompor meledak. Tapi, bener-bener karena kesalahanku sendiri (aku masih ingat semuanya)

Pagi itu, kamis 4 juni 1992 Aku dibangunkan abah jam 4 pagi. Abah membawakanku oleh-oleh malam sebelumnya. Abah yang mau berangkat siaran pagi berpesan kepadaku bahwa beliau tidak bisa menemani ke TK, jadi siang itu aku harus mengambil rapor dan ijazah TK dengan ibu. Abah juga berpesan supaya aku tidak nakal dan membantu ibu serta tidak mengusili adik-adikku. Abah berangkat jam 4 pagi. Kurang dari 30menit aku sudah mandi dan memakai seragam TK ( kaos olahraga ) dandanan lengkap dengan pita rambut juga. Ibuku kemudian membawaku ke kamar tidur untuk menjaga fahmi adik laki-lakiku yang masih berumur 1 tahun. (Super sibuk, dengan sulung berumur 6tahun dan 2 balita benar-benar menguras waktu ibundaku…)

Waktu itu Isti dan Fahmi masih tidur. Tiba-tiba fahmi menangis minta minum, aku panggil ibu ke dapur… Ibu pun ke kamar untuk menyusui fahmi. Aku yang memang ‘ngglithis’ sudah diperingatkan untuk tidak main di dapur, tapi…kapanlagi aku bisa main kompor.. Temen-temen juga biasa bantu mbatik orang tuanya tidak apa-apa (ada setan yang mengajakku :D *kasian setannya…jadi tertuduh mulu*) Dengan kayu kecil (utek-utek) di tangan kanan aku pun bermain, kayu aku masukkan ke minyak di dalam kompor, kemudian aku bawa ke api, dan masih dengan api menyala aku masukkan lagi ke dalam minyak(nggak meledak ya..catet deh), berkali-kali. Sampai yang terakhir, minyak dari kayu netes ke kaos olahragaku…api langsung ngedlop dari kompor ke kaosku mengejar tetesan minyak yang tak seberapa banyak. Apinya bener-bener kecil, aku masih ingat ya…

Bermula dari api yang kecil di ujung pinggangku sebelah kanan, tidak kusangka akan menjadi demikian besar. Dengan tangan kanan dan tangan kiri aku berusaha memadamkan api di badanku….tapi tidak berhasil. Bukannya padam, api semakin besar sampai ke wajahku. Karena panik, aku lari ke dalam rumah sambil memanggil ibu. Begitu melihatku, Ibu yang sedang menggendong fahmi langsung menyeretku ke dapur lagi dan menyiramku dengan 2 ember air. Api yang padam menyisakan aku yang gosong dari ujung kepala hingga perut… Kejadian ini tidak ada 5menit, dan saat kebakar aku tidak merasakan panas…bener-bener adem.

Ibu yang masih shock aku tinggalkan, aku menghampiri kaca besar di ruang tengah untuk melihat apa yang aku alami….namun tidak ku lihat bayanganku yang dulu…hanya ada sosok hitam kemerahan…aku bertanya kepada ibu…”buk, iki aku?” (jaman dulu omonganku udah tuek ix)

Keributan di rumahku pagi buta itu, membuat tetangga berdatangan. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan kami, begitu melihat keadaanku, mereka hanya bisa bilang “kok bisa?” , “ ibunya ngapain ?” .”ditinggal kerja suami aja anaknya kobong” (Sebenernya kalimat2 itu juga diucapkan ibu dan adiknya abah ke ibundaku berulangkali…maapin aku ibuku sayang…aku selalu merepotkan ibu)

Akhirnya salah seorang tetangga memanggilkan becak untuk membawaku ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit, hujan rintik-rintik turun… Badanku mulai terasa panas… Di dalam becak bersama ibu, dan 2 adikku yang masih balita menyusuri 10Km sawah-sawah dan memasuki kota… (bayangkan saja lama perjalanannya naik becak, dari rumah jam 6 pagi sampai rumah sakit sekitar jam 11…perkiraan saja soale sudah siang di RSUD).

Sebelum sampai rumah sakit yang jaraknya 21 KM dari rumahku itu, kami mampir ke dr.Matori untuk periksa. dr.Matori tidak bisa bilang apa-apa, beliau menyuruh kami untuk segera ke RSUD Pekalongan. Beliau menelpon UGD RSUD untuk mengabarkan kedatangan kami, sehingga begitu becak kami sampai di kraton, perawat dan paramedis langsung mengurusku. *dengan kondisiku yang gosong seperti itu wajar banget kalau dokter pun tidak bisa berkata apa-apa*

Abahku di radio walisongo yang dihubungi oleh dr.Matori shock saat melihatku di UGD, Abah yang menangis jatuh terduduk di samping brangkarku. jadi pas dokter matori menelpon abah dan berkata "pak roni, anak anda terbakar", abahku mengira yang terbakar kaki atau tanganku sedikit. Bahkan saat itu, abah sempat tidak sadar kalau yang terbaring menjerit-jerit di brangkar adalah aku (gosong mana kenal) Sementara budheku pingsan dan ibuku duduk termangu di depan UGD. (Sampai saat ini, ibuku terkadang begitu terlihat kesakitan saat menatapku seolah-olah semua itu kesalahan beliau. Kejadian ini telah menyakitinya dengan demikian parah.)

Aku masih ingat, di UGD bajuku yang sudah lekat dengan tubuhku ditarik lepas oleh para perawat. Luka harus terbuka, tidak boleh tertutup kaos yang sudah menjadi plastik. Duh…rasanya sakitttttt banget…rasanya seperti pas kita korengen trus ditutup pakai kasa dan ditarik saat kasanya kering… (yang pastinya berdarah-darah). Aku terus menjerit dan menjerit…suaraku sampai hampir habis. Dan akhirnya telinga kananku yang gosong parah, terpaksa digunting separo (kata dokter sutoko harusnya tidak dipotong juga gpp…tapi namanya aja pencegahan inveksi ya).

Di RSUD Pekalongan, aku diletakkan di ruang isolasi karena luka bakar yang aku alami seluas 45 %. Selama 10 hari pertama 3 dokter spesialis yang menanganiku. Spesialis bedah, spesialis anak dan spesialis mata. Saat itu aku yang tidak sadar kadang meracau menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di TK (membuat keluarga besarku semakin sedih). Jari-jari tangan kananku lengket (seperti mencengkeram) tidak bisa lepas. Tapi Alhamdulillah jari-jari ini bisa terlepas setelah ditelateni ibuku dan perawat dengan dikompres memakai cairan NaCL. Alis dan bulu mataku habis tak bersisa (alhamdulillah sudah tumbuh lagi ^o^ )

Selama proses perawatan hanya kesakitan yang aku rasa apalagi saat pengobatan dilakukan oleh para perawat tiap jam 9 pagi. Hiks… perawatan untuk luka bakar sangatlah menyakitkan. Aku tidak bohong…Standarnya luka bakar harus diguyuri cairan NaCL kemudian digosok dengan kain kasa. Setelah dengan NaCL ganti dibersihkan dengan obat merah (digosok dengan kasa juga). Ini dilakukan diseluruh luka bakar yang ada. Jadi untuk kasusku, dari tangan kanan, tangan kiri, badan, leher digosok seperti itu baru kemudian ditutup dengan sufratule. Ya Allah… jangan ditanya deh sakitnya. Aku menangis, menjerit dan menyumpah-nyumpah (suaraku melebihi bunyi toa nyaringnya). Setiap hari, perawatan tersebut aku jalani. 4 orang laki-laki dewasa yang harus memegangi tangan juga kakiku. Oh ya…aku fasih menyebut kata ‘setan, monyet, juga belis’ selama proses itu.

Bukan aku tidak berusaha kabur, setiap pagi aku selalu merancang rencana kabur dari proses pengobatan itu. Dari yang jongkok di kamar mandi selama berjam-jam, sampai yang memposisikan tubuhku sedemikian rupa malang melintang di pintu agar tidak dibawa ke ruang pengobatan. Tetapi…tidak ada satupun yang berhasil. Mereka lebih kuat dari aku. Abah menggendongku yang berontak, dan para perawat laki-laki juga pak satpam (untuk nangani aku, perlu 2satpam) siap di lorong juga di ruang perawatan. Begitu abah dan aku masuk, huaaaaa tangan mereka sigap memegangku.

Saat itu, jeritan dan tangisanku menjadi momok bagi pasien lain. Semua orang hapal jam perawatanku, Saking rutinnya jerit tangisku (setiap hari), sampai banyak pasien yang mengenal keluargaku. Mereka bertanya ke orang-orang “itu yang njerit2 terus anaknya siapa? Dia kenapa?”

Selama aku di rumah sakit, fahmi belajar jalan di ruanganku, prembetan dari dinding ke tempat tidurku. Ibundaku, yang paling kasihan. Beliau selalu disalah-salahkan orang. Padahal...beliau yang paling merana melihatku. Aku anak sulungnya, dia yang mengandungku selama 10bulan, dia yang melahirkanku, dan dia orang yang melihatku terbakar, dia juga yang menyiramku dengan air. Bisa kan dibayangkan, apabila saat itu ibuku pingsan… bukan hanya aku yang terbakar, tapi seisi rumah juga. Ibulah yang selalu lebih sakit hati ketika ada orang yang menatapku, beliau juga yang selama ini selalu merawatku. Aku tidak menjadi aku yang sekarang tanpa dukungannya.


note:

1.setiap subuh, perawat selalu mendatangiku, memasang kompres di sekujur luka bakarku.

2.setiap kali selesai diobati, aku selalu dibuatkan minuman dan makanan apa pun pilihanku oleh para perawat..

3.saking sakitnya pas diobati, aku sampai ngompol di brangkar tsb -___-' (memalukan)
Rabu, Oktober 12, 2011 - 1 comments

NPK | Nawra Paket Kilat

Nawra Paket Kilat

Menerima Kiriman Dokumen/ Paket Domestik dan Internasional.
Service :
- Jangkauan Global
- Cepat, Aman, Nyaman dan Terpercaya
- Door to Door delivery
- Express Delivery
- Competitive rates

Nawra Paket Kilat
Jl. Raya Kalilembu No. 326 Karangdadap
Pekalongan 51174
Jawa Tengah

Mobile +62 8564 2620214
Sabtu, Oktober 08, 2011 - , , 0 comments

Aku Tua Terlalu Dini

Entah kenapa, aku merasa pemikiranku begitu tua. Apa yang menurut teman-teman sebayaku suatu hal yang sangat berat, menurutku biasa saja. Sampai teman-teman terdekatku sering protes terhadap sikapku. Mereka ribut curhat tentang pacar sampai nangis-nangis, aku santai saja...

"lha cuma masalah gitu saja kok nangis... Misalkan putus, ya cari saja yang baru".
**langsung deh stop nangis, dia pulang menahan marah**

Masalah yang kita hadapi kan tidak akan selesai hanya dengan nangis, marah-marah atau pun ngamuk. Mending dicari solusinya yang baik buat diri sendiri dan sekitar. Bosen juga kan tiap saat dengerin masalah yang sama, yang sebenarnya hanya perlu olah pikiran dan pengendalian diri. Ini menurutku, persepsi orang beda-beda lho.

Orang yang baru kenal aku, sering menganggap aku sosok yang sangat serius. Yang tidak bisa diajak bercanda atau pun main-main. Padahal, aku berusaha membagi setiap hal-hal yang aku temui pada kamar-kamar yang berbeda di otakku. Kalau memang waktunya bercanda, ya wajarlah kalau ngakak. Berbeda kalau kita ada di kantor, itu waktu bekerja. Bukan mau sok sibuk atau sok loyal, tapi memang ada porsi dan tempat masing-masing hal dengan tanggungjawab yang berbeda pula.

Harus bisa menempatkan diri di mana posisi kita, di mana tempat kita. Ketika kerja di dunia pendidikan, ya hendaknya menulis tentang hal-hal yang wajar. Tidak mungkin kan sebagai seorang pengajar mengatakan banyak membaca itu sama dengan banyak bingung. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan pengetahuan kalau tidak membaca. Beda lagi kalau bekerja di tour and travel, masa kita mau bilang jalan-jalan sama dengan membuang uang?
Karakter kita terlihat dari apa yang kita tulis atau kita ucapkan.
Teman-teman sering melupakan aturan tak tertulis ini. Bahwa pembawaan diri menjadi modal utama kita dalam hubungan dengan relasi kita.

Orang yang benar-benar mengenalku, mereka akan melihatku sebagai sosok yang manja, cerewet, dan lebay. Huhuhu bahkan kelewatan lebay. Tetapi bisa begitu cepat berubah style menjadi begitu dewasa dengan pemikiran-pemikiran orang tua.
Senin, Agustus 08, 2011 - , , , , 6 comments

Kederku Menghilang

(Di ruang tunggu tanpa pengamatan security)

Entah mengapa, begitu mendengar kata "training" aku langsung keder. Yang ada di pikiran "pasti aku ntar teraniaya lagi". Dari jaman jadi parttimer baru 1kali aku menjadi trainee, yaitu pas parttime di Dipo 66 Salatiga. Waktu itu trainingnya benar-benar menguras emosi, berangkat kerja udah seneng, di sana down lagi... Trainerku memakai uji mental segala, sebenernya niatnya baik, cuma...aku yang tidak tahan uji... Lelah turun naik tekanan terus...
Paling aku inget nasehatnya si mas trainer "Bekerja itu tanpa diperintah, lihat baik-baik, perhatikan, lakukan sendiri".

Di DHL Pekalongan, aku kerja tanpa masa training, huaaaa digelondor saja. Learning by doing, semua dipelajari secara mendadak dan mandiri. Dibekali courier guide dan beberapa informasi kecil, aku jalan-jalan sendiri. Pernah kena teguran dari jkt, "kalau ada apa-apa cek dulu di google, 108, dan yellow pages". Aku pun semakin menjaga diri, jangan sampai terjerumus, jangan sampai melakukan kesalahan. Kata siapa ya kerja di paket mudah...hufttt salah kasih kode bisa nyasar, salah lihat regulasinya shipment tidak bisa dikirim.

Jalan 3 bulan kerja, BM bolak-balik nyuruh training di SRG. Aku keder, masih teringat jelas situasi training di Dipo 66 Salatiga.
"Aku takut pak" begitu aku sampaikan ke atasan.
Training di SRG pun ditunda sampai 2bulan lebih, untuk mengatasi rasa takutku. Orang-orang ngertinya aku pemberani, padahal aku juga punya perasaan seperti mereka. Terkadang hal-hal yang menurut mereka biasa-biasa saja, bagiku sungguh-sungguh menakutkan.
Awal juli, kami membuka service point di Tegal, untuk itu staff tegal pun training di kantorku. Aku yang belum resmi berangkat training, malah akhirnya menjadi trainer staff tegal. Alhamdulillah lancar, tapi mungkin masih menyisakan demam panggung.

Bersama 2 staff Tegal, 26 Juli aku training di service centre SRG. Training dimulai jam 9 pagi. Tapi yang dari Tegal datang jam 10 lewat, huftt aku pun diam di pojokan observasi sekeliling. Di Pekalongan udah keder, giliran di SRG malah santai-santai, grogi udah ilang, tidak trasa sedikitpun . Memang mending langsung gerak, langsung kejadian, daripada meraba-raba di pikiran. Apalagi sampai di sana 07.30 (kegasi'en), yang sudah standby baru security'nya. Prosesnya di sana hanya sekilas saja, bagiku seperti merefresh ingatan. Lha semua udah aku lewati kok... Sambil observasi, sambil angon...huhuhu... Lha mba2nya dari tegal cerewet banget, seringnya malah ribut komen:
"Wahh ini seperti yang dilakukan mba hani"
"Mba hani, mba hani...kemaren dulu kayak gini juga ya"
"Mba hani, udah ngajarin ini kok"
"Ini maksutnya apa mba, aku jadi bingung".
Wkwkwkwk... kok jadi aku yang mumbul terus ya... Sempat juga ndak sabar pas denger celutukan terakhir itu...dengan otomatis aku jawabin singkat padat dan jelas pake nunjuk ke kode produk **ketahuan langsung aku galak**.
1 hari full berjalan dengan lancar, alhamdulillah.

Lunas sudah semuanya, persyaratan kerja sudah aku penuhi. Intinya, tidak perlu takut sebelum mencobanya. Semua kan lancar apabila kita menjalankannya dengan tenang dan konsentrasi.
- 0 comments

Personality Profile of hanifah sya'roni

Click to view my Personality Profile page

Popular Posts