Uda gelap, dipepet-pepet. Hiks T_T

Ada kiriman pulsa 50rb nylonong ke hpQ, siapa yg ngirim yach? Tau aja kalu diriku lg keye pulsa ;p terima kasih *buat pengirimnya* Update 29/02/12 - 14.05 Pengirim pulsa client si bos, buat insentif bulan ini

Pikir Dulu Sebelum Bunyi

Bukan bermaksud sok tua atau sok tau, hanya ingin sekedar sharing dengan semuanya.

Setiap hari, kita selalu terlibat dalam percakapan. Tidak hanya dengan yang seusia, tetapi juga antar usia. Dari yang lebih muda (anak-anak) sampai dengan yang lebih tua (para sesepuh) yang hanya sekedar bisik-bisik, gossip, curhatan juga diskusi. Dalam setiap percakapan itu, lebih baik kita menjaga ucapan kita. Tidak asal ngucap/ nyeplos tanpa mikir terlebih dahulu… Ini semua dikarenakan, ucapan kita itu bisa menjadi tauladan mereka yang mendengarnya. Semisal ada adik kita curhat…

Adik(L)  : “Kang…istrinya temanku kalau diberi saran ngenyelan, malah nuntut2 segala”

Kakak    : “Wong wedok kalau diatur susah, tinggal saja…cari lagi yang lain”

Menjawab curhatan atau cerita seseorang baiknya tidak asal bunyi seperti di atas, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Apalagi, bila diri kita lebih tua daripada yang lain…pikir dulu baik-baik, diskusikan solusi apa yang memungkinkan untuk diambil. Dilihat juga bagaimana situasi saat terjadi percakapan itu, apakah dalam rumah yang sepi, atau ada orang/ family yang mendengarkan perkataan tsb. Apabila, ucapan tsb didengar orang lain yang lebih muda, bagaimana kira-kira bila mereka langsung mengikuti jejak kita yang lebih tua? Berarti ada banyak hal yang dipertaruhkan… ada istri/ suami mereka, ada anak-anak mereka juga yang lain. Bila perkataan kita tsb diaplikasikan oleh pendengar kita, apa beban yang ditanggung anak-anaknya… Iya kalau anaknya sudah bisa mandiri… kalau anaknya masih kecil-kecil?

Anak-anak pun bisa menelusuri jejak percakapan tsb, merunut bagaimana kejadian yang menimpa keluarganya berasal…dan itu sungguh menyakitkan. Apalagi bila sumber nasihat itu dari orang-orang terdekat keluarga,mungkin berujung dendam.

Jangan remehkan ucapan kita yang asal bunyi itu, di acara yang sesantai apa pun… kata-kata kita dikonsumsi orang banyak. Dari satu orang pendengar akan sambung-menyambung menjadi 1000 penggosip. Yang kemudian mungkin dilakukan oleh mereka dengan pemikiran  “ahh…si itu aja bilang begini kenapa aku tidak bisa”...

Ketika yang mendengar perkataan kita ipar atau menantu, dampaknya mungkin...saudara perempuan atau anak perempuan kita yang menjadi korban. Dianggap kita tidak peduli, dan memberikan arahan yang 'pas' bagi orang yang tidak bertanggung jawab.

Tidak perlu lah 'mblusukke' kerabat kita yang lebih muda atau pun yang lebih tua. Hal-hal seperti ini bisa menjadi siklus yang kemudian jatuhnya ke kita juga.

Misal saja, percakapan tadi di atas didengar oleh teman kerja... Kesimpulan yang didapat bermacam-macam kan... bisa diartikan

1.si pemberi saran otaknya nylewah/ nggak bener,

2.si pemberi saran provokator,

3.si pemberi saran tidak loyal

Bisa berujung juga pada kepercayaan pendengar ke kita yang asal ucap.

Dari asal bunyi menjadi masalah yang sangat serius.

Alhamdulillah USD 2300 :D

[Titha] Suatu Saat Bersama Dia


asyik di depan kompi, seperti sedang mencari solusi :))

Ponakan tercinta, mumpung baru 1 belum ada lagi =)) *diluar ponakan dari sepupu* setiap hari disayang-sayang dan diabadikan fotonya.
Foto-foto ini bukan hasil jepretan orang tuanya, tapi jepretan budhe dan om2nya :D

Agak heran juga melihat perkembangan titha selama ini, semakin pintar dan ngenyelan -__-' mungkin memang sudah mendarah daging...huhuhu
Susahnya, sekali dia melihat apa yang kita lakukan dia akan meniru dengan tepat. Sekarang hobinya nendang orang setelah melihat omnya latihan silat... (korbannya budhe dan yg lain).
Naik turun kursi dan meja juga jadi kegiatan yang dia suka -__-' padahal budhe, mama dan eyangnya nyeri punggung kalau harus ngantan-ngantani...

Cerewetnya...masyaallah...duh melebihi mama, budhe juga om2nya...
kata eyang uti, titha itu seperti om faiz dan budhe gabung jadi 1 -__-
kalau sudah ketemu eyang kung...dunia hanya milik berdua...
tidak ada lagi deh yang bisa ngelepasin pelukan titha ke yang kung..

Udah gitu bandel banget, bahkan kakeknya dari pihak ayah sampai shock melihatnya. Cucu paling bandel katanya, juga paling cerewet dan galak...
Bahkan sejak bulan lalu dibatasi waktu berkunjung ke eyang kung nDoro (nama kecamatan) =)) *gara2 terlalu ribut dan gglithis*

Dikejar laporan pajak.

Orang kalau tidak pernah bersyukur yang kliatan ga enaknya terus. Duit 300rb dapat kamar full fasilitasnya, dapat rewang bayi, setrikaan sebagor masih ngeluh lauknya cuma tempe. Ampun dah, nikmat bgt jadi t4 sampah.

Beli batagor duitnya kurang 500 =__= *isinneee pok yakin*

Bu bos sibuk nyusun diktat..sambil ngomong 'dek ga usah ksusu, pd akhirnya kuliahmu akan selesai kok'. Jd pengen nangis dinasehati gt..huehue cengeng

pengen manja2 :D

kata ibunda "kamu udah gede kok mbayi"
hahaha...katanya aku saingan sama titha...
emang ga boleh to bu kalu aku pengen manja,
meluk ibu tiba-tiba dan menghiba-hiba minta ditungguin makan :D
lebih asyik kalau pas meluk ada titha, dia pasti langsung jejeritan ikut meluk
takut eyang utinya diculik budhe :p
enak ya tinggal di rumah, bisa meluk ibu setiap malam
ndak seperti pas ngekos, adanya cuma guling =____='

(ihh itu kan ibuku...kok titha minta gendong mulu sih...)

ndak tau deh kenapa, sekarang aku kok makin lengket sama ibu ya...
kalau gada ibu, celingukan nyari-nyari kesana kemari...
mau makan, mau berangkat kerja, bahkan mau mandi poyan dulu... "bu...aku mau mandi yaaa"

butuh kopi TT____TT

Lembur lagi ^o^

1 Tahun Penuh Warna

Jebul satu tahun itu cepet banget ya...
Tidak terasa sudah 1 tahun bekerja di pekalongan
Mungkin karena suasana kerja lebih nyaman, membuatku tidak mengitung hari seperti waktu di salatiga. Awal tahun 2011 lalu, aku mengalami yang namanya episode 'menghitung hari'. Bahkan kalender penuh dengan coretan, 1 hari lagi berlalu... Update facebook isinya rencana pulang rumah. Koh Yul (owner warnet) sampai bilang "hani udah ndak sabar resign tuh".
----
Penyesuaian diri di pekalongan, lebih cepet dan nyaman daripada waktu di salatiga. Tanpa proses training, njebur dan belajar secara langsung. Bukan berarti atasan tidak pernah memberikan arahan lho ya... arahan biasa via chat. Aku kira ngirim barang itu tinggal dibuntel langsung kirim...ternyata banyak aturan-aturan yang harus diikuti. Hiks...apa yang perlu memakai fumigasi, kiriman apa saja yang perlu di karantina, dan standart menangani DG. Yah...setidaknya ini lebih mudah daripada pengiriman cargo lewat laut (kata si bos).

Sebagai ROO (retail outlet officer), jobdeskku hanya yang berkaitan dengan dhl. Tetapi...lambat laun travel dan ticketing juga kesrempet. 1 kantor dengan 3 bidang yang berbeda, dengan si bos yang lebih sering tugas luar...jadilah aku harus bisa melayani 3 bidang itu saling bersinergi.
Administrasi kantor juga termasuk yang menjadi tanggung jawabku. Tagihan dan data-data customer harus ada arsipnya, yang berarti laporan bulanan lengkap, dan pembukuan lancar :D


(tanpa buku dan kertas2 ini  bisa tersesat)

Karena setiap hari selalu sibuk, dan tetap bahagia...
Akhirnya satu tahun pun tidak terasa lama.
Terima kasih SSB, terima kasih untuk satu tahun yang penuh warna ini, semoga terus tumbuh dan berkembang dengan penuh berkah...
Aamiin...

(menuju 2 tahun)

"Tidur di lantai lebih empuk daripada tidur di kasur kah?" *Hello Ghost*wkwkwk

Lebih Baik Jujur, Bukan Hanya Diplomasi

Setiap ada masalah, aku terbiasa untuk menghadapi sendiri. Tanpa cerita ke orang-orang disekitarku.
Apalagi masalah keluarga, orang selalu lebih pinter nebak-nebak sendiri. Terkadang tebakannya jauh melenceng dari persoalan sebenarnya.
Susahnya lagi bila yang tua menjadi 'corong' di setiap kesempitan sampai ke ujung benua. Mungkin bagi beliau curhat, tapi jatuhnya jelek di kita. Apalagi bila yang tua orang yang berwibawa (karena tua), pembelaan dari kita hampir bisa dipastikan tidak akan dipercaya.

Karena lebih sering diam, orang mengira aku yang 'durhaka'. Sama yang tua, berani mendiamkan dan perang dingin. Bahkan bigbos merasakan aura permusuhanku dengan abah.
Beliau lebih sering mengingatkan dengan halus, "Han, orang tua itu panutan lho", yang biasa aku balas dengan senyum. Rasanya rikuh, kalau mau cerita sikonku yang sebenarnya.
Bigboss dan istri sama-sama seorganisasi almamater denganku. Kenal sudah lama, tapi aku sendiri lebih dekat dengan bu bos. Terkadang saling cerita, eh sempat kebablasen. Taulah bu boss dengan sikonku..
Besoknya, bigboss memberikan wejangan baru pagi-pagi
Bos : "Han, kadang orang tua harus mengorbankan seseorang untuk menutupi alasan sebenarnya dari anak yang lebih kecil, karena kamu yang paling gede...maka kamu menjadi alasannya. Bukan karena dia tidak menyayangimu tetapi karena itu alasan yang paling logis yang bisa ditemukannya"

Kenapa harus membuat anak-anak bertengkar? kenapa tidak ngomong apa adanya saja? kan lebih baik daripada anak saling musuhan, bukan hanya mencari alasan saja yang diperlukan tetapi usaha dan kesediaan untuk mencari jalan keluar.
Memang sangat sulit menghapus apa yang terekam di ingatanku. Apalagi kalau dijadikan tumbal hanya karena susah membuat alasan yang akhirnya membuatku dipreteli satu demi satu oleh adik-adikku. Bagiku tetaplah, jujur lebih baik daripada memecah belah persaudaraan. Kalau akhirnya aku yang dikejar-kejar, kenapa aku tidak boleh membela diri di depan adik-adikku? Karena beban itu bukanlah tanggung jawabku. Apalagi bila saat ditumbalkan, aku sendiri sudah tidak mendapatkan bantuannya dan sudah mengalami penganiayaan finansial, verbal dan emosional.

Hidup memang tidak bisa ditebak, apa yang awalnya indah belum tentu akhirnya sama. Menjadi tua juga belum tentu dewasa. Yang muda juga bukan berarti harus terus mengalah. Terlalu lama diam kmungkinan malah tidak menyelesaikan keruwetan itu. Ngomong juga bukan berarti masalah selesai...tapi setidaknya beban di hati dan pikiran bisa berkurang (walau cuma sedikit).

*aku lupa, si bos dan istri selalu saling bagi gosip dan info terbaru*

Ni yg nyanyi bener si andika pratama? Kisah kasih di sekolahnya merdu bgt.

Pas 20 Menit

Seperti jaman SMA, naik sepeda onthel itu yang paling berat 2 minggu pertama.
Sesudah itu... semua akan terasa lebih enteng :D
Awal november 2011, dari rumah ke kantor aku tempuh dalam 35 menit. Sampai kira-kira 1 bulanan, tetap tidak bisa lebih cepet lagi :))) sudah hampir putus asa..
Selama januari sampai februari sempat diantar jemput kembali sama abah, karena hampir tiap hari hujan. Mau nyepeda dibilangin "ntar kehujanan, ndak usah ngenyel"  wkwkwk

Kebetulan kemarin abah harus walimahan di tetangga, karena takut telat aku nyepeda lagi.
Cerah ceria tanpa gerimis, sepanjang jalan rasanya ramee banget. Giliran sampai kantor, belum ada siapa-siapa. Ternyata belum jam 8.00

Pas 20 menit
Kata orang sih ngebut, tapi kerasanya santai

*tapi pulangnya semalem hampir 45menit soalnya jalan'e pelan2 (hujan mana sanggup ngebut)

Luka Bakar, Sungguh Menyakitkan

Orang-orang terkadang kaget ketika bertemu denganku… melihat bekas-bekas luka bakar di wajah juga lengan. Sebelah kanan yang parah banget… ada yang berani bertanya langsung kepadaku, dan ada yang hanya mencuri-curi pandang, penasaran… “Ini mbaknya kenapa ya…” (mungkin begitu isi hati mereka :D )
Aku terbakar 19 tahun yang lalu (baru kemarin bagi ibundaku). Bukan ketelodaran ibuku, abahku, saudaraku ataupun karena kompor meledak. Tapi, bener-bener karena kesalahanku sendiri (aku masih ingat semuanya)
Pagi itu, kamis 4 juni 1992 Aku dibangunkan abah jam 4 pagi. Abah membawakanku oleh-oleh malam sebelumnya. Abah yang mau berangkat siaran pagi berpesan kepadaku bahwa beliau tidak bisa menemani ke TK, jadi siang itu aku harus mengambil rapor dan ijazah TK dengan ibu. Abah juga berpesan supaya aku tidak nakal dan membantu ibu serta tidak mengusili adik-adikku. Abah berangkat jam 4 pagi. Kurang dari 30menit aku sudah mandi dan memakai seragam TK ( kaos olahraga ) dandanan lengkap dengan pita rambut juga. Ibuku kemudian membawaku ke kamar tidur untuk menjaga fahmi adik laki-lakiku yang masih berumur 1 tahun. (Super sibuk, dengan sulung berumur 6tahun dan 2 balita benar-benar menguras waktu ibundaku…)
Waktu itu Isti dan Fahmi masih tidur. Tiba-tiba fahmi menangis minta minum, aku panggil ibu ke dapur… Ibu pun ke kamar untuk menyusui fahmi. Aku yang memang ‘ngglithis’ sudah diperingatkan untuk tidak main di dapur, tapi…kapanlagi aku bisa main kompor.. Temen-temen juga biasa bantu mbatik orang tuanya tidak apa-apa (ada setan yang mengajakku :D *kasian setannya…jadi tertuduh mulu*) Dengan kayu kecil (utek-utek) di tangan kanan aku pun bermain, kayu aku masukkan ke minyak di dalam kompor, kemudian aku bawa ke api, dan masih dengan api menyala aku masukkan lagi ke dalam minyak(nggak meledak ya..catet deh), berkali-kali. Sampai yang terakhir, minyak dari kayu netes ke kaos olahragaku…api langsung ngedlop dari kompor ke kaosku mengejar tetesan minyak yang tak seberapa banyak. Apinya bener-bener kecil, aku masih ingat ya…
Bermula dari api yang kecil di ujung pinggangku sebelah kanan, tidak kusangka akan menjadi demikian besar. Dengan tangan kanan dan tangan kiri aku berusaha memadamkan api di badanku….tapi tidak berhasil. Bukannya padam, api semakin besar sampai ke wajahku. Karena panik, aku lari ke dalam rumah sambil memanggil ibu. Begitu melihatku, Ibu yang sedang menggendong fahmi langsung menyeretku ke dapur lagi dan menyiramku dengan 2 ember air. Api yang padam menyisakan aku yang gosong dari ujung kepala hingga perut… Kejadian ini tidak ada 5menit, dan saat kebakar aku tidak merasakan panas…bener-bener adem.
Ibu yang masih shock aku tinggalkan, aku menghampiri kaca besar di ruang tengah untuk melihat apa yang aku alami….namun tidak ku lihat bayanganku yang dulu…hanya ada sosok hitam kemerahan…aku bertanya kepada ibu…”buk, iki aku?”  (jaman dulu omonganku udah tuek ix)
Keributan di rumahku pagi buta itu, membuat tetangga berdatangan. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan kami, begitu melihat keadaanku, mereka hanya bisa bilang “kok bisa?” , “ ibunya ngapain ?” .”ditinggal kerja suami aja anaknya kobong” (Sebenernya kalimat2 itu juga diucapkan ibu dan adiknya abah ke ibundaku berulangkali…maapin aku ibuku sayang…aku selalu merepotkan ibu)
Akhirnya salah seorang tetangga memanggilkan becak untuk membawaku ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit, hujan rintik-rintik turun… Badanku mulai terasa panas… Di dalam becak bersama ibu, dan 2 adikku yang masih balita menyusuri 10Km sawah-sawah dan memasuki kota… (bayangkan saja lama perjalanannya naik becak, dari rumah jam 6 pagi sampai rumah sakit sekitar jam 11…perkiraan saja soale sudah siang di RSUD).
Sebelum sampai rumah sakit yang jaraknya 21 KM dari rumahku itu, kami mampir ke dr.Matori untuk periksa. dr.Matori tidak bisa bilang apa-apa, beliau menyuruh kami untuk segera ke RSUD Pekalongan. Beliau menelpon UGD RSUD untuk mengabarkan kedatangan kami, sehingga begitu becak kami sampai di kraton, perawat dan paramedis langsung mengurusku. *dengan kondisiku yang gosong seperti itu wajar banget kalau dokter pun tidak bisa berkata apa-apa*
Abahku di radio walisongo yang dihubungi oleh dr.Matori shock saat melihatku di UGD, Abah yang menangis jatuh terduduk di samping brangkarku. jadi pas dokter matori menelpon abah dan berkata "pak roni, anak anda terbakar", abahku mengira yang terbakar kaki atau tanganku sedikit. Bahkan saat itu, abah sempat tidak sadar kalau yang terbaring menjerit-jerit di brangkar adalah aku (gosong mana kenal) Sementara budheku pingsan dan ibuku duduk termangu di depan UGD. (Sampai saat ini, ibuku terkadang begitu terlihat kesakitan saat menatapku seolah-olah semua itu kesalahan beliau. Kejadian ini telah menyakitinya dengan demikian parah.)
Aku masih ingat, di UGD bajuku yang sudah lekat dengan tubuhku ditarik lepas oleh para perawat. Luka harus terbuka, tidak boleh tertutup kaos yang sudah menjadi plastik. Duh…rasanya sakitttttt banget…rasanya seperti pas kita korengen trus ditutup pakai kasa dan ditarik saat kasanya kering… (yang pastinya berdarah-darah). Aku terus menjerit dan menjerit…suaraku sampai hampir habis. Dan akhirnya telinga kananku yang gosong parah, terpaksa digunting separo (kata dokter sutoko harusnya tidak dipotong juga gpp…tapi namanya aja pencegahan inveksi ya).
Di RSUD Pekalongan, aku diletakkan di ruang isolasi karena luka bakar yang aku alami seluas 45 %. Selama 10 hari pertama 3 dokter spesialis yang menanganiku. Spesialis bedah, spesialis anak dan spesialis mata. Saat itu aku yang tidak sadar kadang meracau menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di TK (membuat keluarga besarku semakin sedih). Jari-jari tangan kananku lengket (seperti mencengkeram) tidak bisa lepas. Tapi Alhamdulillah jari-jari ini bisa terlepas setelah ditelateni ibuku dan perawat dengan dikompres memakai cairan NaCL. Alis dan bulu mataku habis tak bersisa (alhamdulillah sudah tumbuh lagi ^o^ )
Selama proses perawatan hanya kesakitan yang aku rasa apalagi saat pengobatan dilakukan oleh para perawat tiap jam 9 pagi. Hiks… perawatan untuk luka bakar sangatlah menyakitkan. Aku tidak bohong…Standarnya luka bakar harus diguyuri cairan NaCL kemudian digosok dengan kain kasa. Setelah dengan NaCL ganti dibersihkan dengan obat merah (digosok dengan kasa juga). Ini dilakukan diseluruh luka bakar yang ada. Jadi untuk kasusku, dari tangan kanan, tangan kiri, badan, leher digosok seperti itu baru kemudian ditutup dengan sufratule. Ya Allah… jangan ditanya deh sakitnya. Aku menangis, menjerit dan menyumpah-nyumpah (suaraku melebihi bunyi toa nyaringnya). Setiap hari, perawatan tersebut aku jalani. 4 orang laki-laki dewasa yang harus memegangi tangan juga kakiku. Oh ya…aku fasih menyebut kata ‘setan, monyet, juga belis’ selama proses itu.
Bukan aku tidak berusaha kabur, setiap pagi aku selalu merancang rencana kabur dari proses pengobatan itu. Dari yang jongkok di kamar mandi selama berjam-jam, sampai yang memposisikan tubuhku sedemikian rupa malang melintang di pintu agar tidak dibawa ke ruang pengobatan. Tetapi…tidak ada satupun yang berhasil. Mereka lebih kuat dari aku. Abah menggendongku yang berontak, dan para perawat laki-laki juga pak satpam (untuk nangani aku, perlu 2satpam) siap di lorong juga di ruang perawatan. Begitu abah dan aku masuk, huaaaaa tangan mereka sigap memegangku.
Saat itu, jeritan dan tangisanku menjadi momok bagi pasien lain. Semua orang hapal jam perawatanku, Saking rutinnya jerit tangisku (setiap hari), sampai banyak pasien yang mengenal keluargaku. Mereka bertanya ke orang-orang “itu yang njerit2 terus anaknya siapa? Dia kenapa?”
Selama aku di rumah sakit, fahmi belajar jalan di ruanganku, prembetan dari dinding ke tempat tidurku. Ibundaku, yang paling kasihan. Beliau selalu disalah-salahkan orang. Padahal...beliau yang paling merana melihatku. Aku anak sulungnya, dia yang mengandungku selama 10bulan, dia yang melahirkanku, dan dia orang yang melihatku terbakar, dia juga yang menyiramku dengan air. Bisa kan dibayangkan, apabila saat itu ibuku pingsan… bukan hanya aku yang terbakar, tapi seisi rumah juga. Ibulah yang selalu lebih sakit hati ketika ada orang yang menatapku, beliau juga yang selama ini selalu merawatku. Aku tidak menjadi aku yang sekarang tanpa dukungannya.

note:
1.setiap subuh, perawat selalu mendatangiku, memasang kompres di sekujur luka bakarku.
2.setiap kali selesai diobati, aku selalu dibuatkan minuman dan makanan apa pun pilihanku oleh para perawat..
3.saking sakitnya pas diobati, aku sampai ngompol di brangkar tsb -___-' (memalukan)

Air asia buka rute SRG-KUL :D *nabung ahhhh....biar isa jalan2 ke sono*

Yang Gede Yang Sehat to... :D

Liat ashanti jadi ngiler, ya ampun bahenolnya *o*

Paling males bgt, kalau pagi2 di hari senin uda disalah2in ama si bos. Abis itu 'nduk beliin kopi tolong' hiks5

Hidup Sembako

Hati tak senang bukan karena cinta yg hilang
bukan juga karena tak punya kekasih
tapi karena isi dompet selalu bersih..trenteng teng teng...
Hidup sengsara bukan karena pacar tak setia
tapi karena tak punya pulsa.. =))
Hidup tanpa cinta bisa aja bahagia
tapi hidup tanpa pulsa bikin kita merana
Kini aku cemberut bukan karena pacar di rebut(ga punya dink)
Tapi sembako bikin aku bangkrut -__-'


*rasanya hampir gila dah liat tagihan belanja..
eh malah dapat sms sperti yg diatas..gubragz deh

kalau voucher belanja matahari, bisa buat belanja di hypermartnya juga kan yach... +__+ nyonge bingung

Happy Weekend yach :D *voucher belanja di matahari sudah di tanganku lhooo

Jejak Gajiku

Awal bulan agak menyakitkan...
Sudah riwa-riwi diitungin ibunda ada kondangan berapa.
Diwanti-wanti temen-temen ke salatiga untuk bimbingan.
Dipesenin ibunya titha baju buat titha...
Bolak-balik diuber-uber voucher matahariku sama ibunda juga ibunya titha...
Dapet tagihan dari fahmi... huhuhu utangku buanyak amat ya
Dan terakhir...duit belanja bulanan...
Ampun deh, belum gajian sudah habis duluan.

Begini tiap bulan, bisa tekor berat aku. Hueee...rekap lagi dan lagi sama saja angkanya...
Alhamdulillah ikut orang tua, tidak usah bayar kos seperti dulu. Laper tinggal ambil sudah ada makanan siap tersaji
Alhamdulillah juga walau tongpes, masih punya voucher senilai 200.000 jadi masih bisa buat nabung bulan depan =))

#LovelyHani

#Lovely Honey

Di setting oleh Hanifah Sya'roni dengan segala kegalauan hati hihihi. Diberdayakan oleh Blogger.